Corps Garda Revolusi Islam Iran atau ARGC mengirim peringatan baru terhadap kapal apapun yang mencoba melewati selat hormus yang ditutup. Penutupan ini terjadi usai serangan gabungan Amerika Serikat Israel yang menyasar Teheran dan menewaskan pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Hamidi. Air JC tak segan untuk menembak kapal-kapal yang tak mengindahkan peringatan mereka tersebut. Langkah baru ini menunjukkan penutupan total selat hormus yang berpotensi menghentikan seperlima aliran minyak global. Lantas apa yang akan terjadi
selanjutnya? Melansir Aljazirah, komandan di Corps Garda Revolusi Islam Iran atau Air GC memperingatkan kapal apapun yang mencoba melewati Selat Hormus akan diserang. Langkah ini terjadi setelah serangan gabungan Amerika Serikat Israel yang menewaskan Hamine, Sabtu, 28 Februari 2026. Penasihat senior panglima tertinggi Iran, Ibrahim Jabari mengatakan, siapa saja yang mencoba melewati Selat Hormus, Air JC, dan angkatan laut mereka akan menyerang kapal-kapal tersebut. Pernyataan ini menjadi peringatan paling
tegas sejak Iran mengumumkan penutupan jalur ekspor Sabtu lalu. Hormus merupakan jalur ekspor minyak paling vital di dunia yang menghubungkan produsen minyak utama teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman dan laut Arab. Kematian Hamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang bertujuan menggulingkan pemimpin Teheran memicu penutupan Selat tersebut. Dengan langkah ini, Teheran menepati ancaman bertahun-tahun untuk menutup jalur sempit tersebut sebagai balasan
atas serangan terhadap Republik Islam. Teheran telah menergetkan infrastruktur yang sangat penting bagi produksi energi dunia sebagai bagian dari pembalasan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ibrahim menyebut mereka juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah tersebut. Mereka mengatakan harga minyak akan mencapai 200 Amerika Serikat dalam beberapa hari mendata. Di balik penutupan Selat Hormus, ada bayang-bayang potensi melonjaknya harga
minyak mentah. Pasalnya, kebijakan itu berpotensi menghentikan seperlima aliran minyak global dan mendorong harga minyak mentah melambung tinggi. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia setiap hari melewati selat Hormus yang memiliki lebar sekitar 33 km atau 21 mil di titik tersempitnya. Pasar minyak kini fokus pada ketenggangan antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel. Mereka khawatir konflik penuh akan mengganggu pasokan minyak dan menimbulkan ketidakstabilan di kawasan. Situasi ini terjadi setelah pengiriman global
sebelumnya juga terganggu akibat serangan drone dan rudal yang sebelumnya dilakukan kelompok Hauti. Otiaman saat itu menargetkan kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden sejak perang Gaza pecah 2023 lalu. Yeah.
Komentar