Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam keras serangan balasan Iran yang dilakukan selama beberapa hari terakhir. Netanyahu pun mengancam serangan militer terhadap Teheran akan semakin intens dalam beberapa hari mendatang. Hal ini disampaikan Netanyahu di markas militer Kirya Tel Afif pada Minggu 1 Maret 2026. Lebih lanjut Natanyahu mengatakan Israel tengah melalui hari-hari menyakitkan akibat serangan Iran yang menelan korban jiwa. Ia mengaku sedih seraya menyampaikan dukacita kepada para keluarga korban.
Tak hanya itu, Natanyahu juga berharap para korban luka segera pulih kembali. Di sisi lain, ia meyakini kampanye militer melawan kepemimpinan Iran akan berhasil. Netanyahu mengatakan Israel mendapat bantuan militer Amerika Serikat di bawah pimpinan Presiden Donald Trump dalam operasi ini. Donald sebelumnya ledakan keras terdengar di Tel Afif akibat benturan dan pencegatan rudal dari Iran. Menurut laporan tercatat del orang tewas dan 28 lainnya terluka setelah serangan menghantam wilayah Israel Tengah.
Kini jumlah korban tewas di Israel mencapai 10 orang. Sebelumnya akhir Februari lalu, Israel melepaskan serangan ke Teheran. Rudal Israel bahkan menghantam sebuah sekolah putri di Teheran dan menewaskan lebih dari 160 siswa. Rentetan serangan balasan pun terjadi di tengah memanasnya situasi, terutama usai serangan Amerika dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Hamini. Diketahui tewasnya Hamene telah memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Kerja sama militer Israel dan AS
merupakan operasi gabungan yang kedua kalinya dalam 8 bulan terakhir. Dalam perang 12 hari pada Juni, serangan gabungan disebut telah melemahkan pertahanan udara, struktur komando militer, dan program nuklir Iran. Namun kosongnya kepemimpinan pasca kematian Hamene dinilai meningkatkan resiko instabilitas dan gejolak yang lebih luas di kawasan.
Komentar