Amerika Serikat dilaporkan menghancurkan satu kapal selam Iran dan 16 kapal lainnya dalam rangkaian operasi militer yang masih berlangsung terhadap Tehran. Di saat bersamaan, dua fasilitas milik CIA di kawasan itu disebut mengalami kerusakan akibat serangan pesawat tanpa awak. Komandan Komando Pusat Amerika Serikat Laksamana Berat Cooper menyampaikan pada 3 Maret bahwa pasukan AS telah menyerang hampir 2000 target di Iran dengan menggunakan lebih dari 2.000 amunisi sejak dimulainya operasi yang
diberi nama operasi Epic Fury. Dalam pengarahan resmi, Cooper menjelaskan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan tanpa henti selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Ia menilai kemampuan Iran untuk melakukan serangan balasan secara cepat kini mulai melemah. Sebagai respons atas operasi tersebut, Iran disebut telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik serta lebih dari 2.000 drone. Namun menurut Cooper, kemampuan Teheran untuk menyerang pasukan AS dan sekutunya terus menurun. Sementara kekuatan tempur Amerika justru semakin
diperkuat. Ia juga mengungkapkan bahwa pembom infrastruktur militer Iran. Pesawat membam siluman B2 dan B1 disebut melancarkan serangan presisi terhadap sejumlah fasilitas rudal. Sedangkan B52 menargetkan lokasi ruda balistik serta pusat komando dan kendali. Pemerintah Qatar mengumumkan telah membongkar dua sel mata-mata yang diduga memiliki keterkaitan dengan kops pengawal revolusi Iran. Dalam operasi tersebut aparat keameran menangkap 10 orang tersangka. Kantor Berita Resmi Qatar, Qatar News Agency pada Selasa, 3 Maret
melaporkan bahwa pengungkapan itu merupakan hasil operasi pemantauan serta pelacakan yang dilakukan secara presisi oleh aparat keamanan. Dalam keterangannya, Q&A menyebut tujuh dari 10 tersangka diduga menjalankan misi spionase untuk mengumpulkan informasi mengenai infrastruktur vital dan instalasi militer negara tersebut. Sementara tiga tersangka lainnya diduga ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan sabotase bahkan telah mendapatkan pelatihan penggunaan drone. Aparat juga menemukan bahwa sel tersebut menyimpan
data berupa lokasi serta koordinat fasilitas sensitif termasuk instalasi strategis negara. Selain itu, sejumlah perangkat komunikasi turut diamankan sebagai barang bukti dalam penggerebekan tersebut. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, para tersaka disebut mengakui memiliki hubungan dengan IRC. Mereka juga mengakui telah menerima penugasan untuk menjalankan misi intelijen dan aktivitas subsversif di wilayah Qatar. Otoritas Qatar menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan nasional di tengah meningkatnya
ketegangan kawasan, militer Israel kembali melancarkan gelombang serangan udara ke Tehran. Menargetkan pusat-pusat komando yang berkaitan dengan aparat keamanan Iran dan milisi Basic. Melalui pernyataan resmi, militer pertahanan Israel penyebut serangan tersebut menyasar puluhan pusat komando milik pasukan keamanan internal Iran serta Basic. Organisasi paramiliter yang berada di bawah kendali kops pengawal revolusi Islam Iran serta berperan dalam menopang otoritas pemerintahan. IDF juga merilis rekaman yang memperlihatkan jat
tempur angkatan udara Israel menyerang helikopter Iran serta pasukan yang tengah mempersiapkan peluncuran rudal pada 4 Maret. Serangan udara itu disebut dilakukan semalam berdasarkan arahan intelijen militer Israel dengan puluhan amunisi dijatuhkan ke sejumlah target. Menurut militer Israel, pusat-pusat komando yang dihantam digunakan oleh rezim Iran untuk mempertahankan kendali di dalam negeri serta mendukung penilaian operasional dan situasional. Selain itu, serangan turut menyasar Direktorat Pasokan dan Logistik Pasukan
Darat Iran termasuk peluncur rudal dan sistem militer lainnya. IDF menegaskan pihaknya akan terus menargetkan dan melemahkan infrastruktur militer Iran dalam rangkaian operasi yang sedang berlangsung. Ledakan dilaporkan terdengar di Teheran pada malam hingga dini hari. Serangan Amerika Serikat terhadap Iran disebut berjalan lebih cepat dari jadwal yang telah direncanakan. Hal itu disampaikan komandan tertinggi AS untuk kawasan Timur Tengah. Konflik yang telah berlangsung 5 hari itu terus mengguncang
pasar global. Militer Israel pada Rabu pagi, 4 Maret menyatakan telah memulai gelombang serangan baru yang menargetkan lokasi peluncuran rudal Iran, sistem pertahanan udara, serta infrastruktur militer lainnya. Di Israel, sirena peringatan serangan udara terdengar pada Rabu pagi untuk memperingatkan datangnya rudal Iran. Sejumlah saksi mata melaporkan ledakan keras mengguncang bangunan saat sistem pertahanan udara mencegat proyektil yang masuk. Komandan Komando Pusat Amerika Serikat, Brad Cooper mengatakan 24 jam pertama
pemboman dalam operasi Epic Fury terhadap Iran hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan 24 jam awal kampanye yang membuka perang Irak pada tahun 2003. Dalam pengarahan video yang dirilis pada 4 Maret, Cooper menilai kemampuan Iran untuk menyerang pasukan AS dan sekutunya terus menurun. Di sisi lain, ia menyebut kekuatan tempur Amerika justru semakin meningkat. Ia juga menyampaikan bahwa penilaian operasional secara keseluruhan menunjukkan pasukannya berada di depan rencana yang telah ditetapkan. Menurut
Cooper, sistem pertahanan udara Iran telah mengalami degradasi signifikan. Angkatan laut Iran disebut tidak lagi memiliki kapal operasional di perairan utama setelah 17 unit ditenggelamkan. Sementara lebih dari 2000 target di Iran telah diserang. Di tengah sikap diplomatik yang mengeras muncul laporan bahwa Iran tengah mendekati kesepakatan dengan Cina untuk membeli rudal jelajah anti kapal supersonik. Negosiasi yang dilaporkan itu terjadi saat Amerika Serikat meningkatkan kehadiran angkatan laut di sekitar Iran. Rudal yang dibahas
disebut sebagai sistem anti kapal supersonik buatan Cina yang berpotensi memperkuat kemampuan pertahanan Iran di Teluk Persia. Laporan Palestine Chronicle pada 3 Maret menyebut Kementerian Luar Negeri Cina menyatakan tidak mengetahui secara rinci pembicaraan tersebut. Namun isu ini menambah sorotan terhadap hubungan industri militer Beijing dan Teheran. Di tengah perang yang terus memanas dan risiko gangguan jalur energi global dengan posisi tegas menolak perang AS Israel atas Iran sekaligus mencuatnya
isu kerja sama rudal. Cina kini berada di pusat dinamika geopolitik yang menghubungkan Washington, Tel Afif, dan Tehran. Di satu sisi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mauning menyatakan tindakan militer yang menyasar pemimpin tertinggi Iran sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan prinsip piagam PP. Beijing pun menyerukan penghentian segera operasi militer serta pencegahan eskalasi lebih lanjut. Cina juga menyinggung pentingnya menjaga keamanan salat hormus, jalur vital distribusi energi dunia agar tidak
terdampak konflik. Gangguan di kawasan itu dinilai beresiko memicu tekanan terhadap peragangan global dan harga energi.
Komentar