Pemirsa, kita akan membahas hal tersebut bersama peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Rorom Pria Tikanto. Asalamualaikum, Mas Rorom. Waalaikumsalam, Mbak Sita. Mas Rorom, sebelumnya kita sudah sempat berbincang dengan Prof. Thomas Jamaluddin terkait ee sudut ketinggian dari hilal dan juga sudut elongansi. Sebenarnya ee sudut 3 derajat dan juga 6,4 derajat ini apakah hanya digunakan dalam kriteria mabs di Asia khususnya di Indonesia ini atau di berbagai belahan dunia juga menggunakan sudut ketinggian
3 derajat dan 6,4 derajat. Nah, sepengetahuan saya ee ada beberapa ee acuan yang digunakan. Misalkan kalau ee apa namanya Turki, Dianet dan ee apa namanya? kelompoknya itu menggunakan ee kriteria yang lebih moderat ya. Jadi ee dia ee memasang ee elongasi yang lebih besar 8 derajat kalau tidak salah. Kemudian ketinggian ee 5 derajat. Nah, ada juga ee apa namanya ee kriteria yang lebih mudah lagi elongasi itu 7 derajat itu digunakan di beberapa negara yang lain. Apa pertimbangan dari perbedaan ee
derajat yang digunakan oleh negara-negara lain tersebut? Ee Mas Rorom? Iya. Sebenarnya kalau ee apa namanya? Misalnya ya yang saya ambil contoh adalah ee kriteria alongasi 7 derajat itu ee secara matematis ada yang mengembangkan melakukan perhitungan secara analitik kemungkinan ee sinyal atau citra atau ee terang dari bulan itu masih bisa mengalahkan cahaya senja. Nah, kontras ee yang berbeda antara ee sinyal bulan dan juga langit latar depan itu yang ee menentukan apakah hilal itu tampak atau tidak. Nah,
sehingga secara analitik ada yang mengarah ke kriteria atau batasan ee 7 derajat, ada juga yang menggunakan yang lebih besar. Nah, sementara ee kriteria MABIMS itu dibangun berdasarkan data yang dikumpulkan. sekian tahun begitu ya ee tidak apa namanya sebagian besar memang dikumpulkan dari wilayah yang sedikit berbeda kondisinya dengan Indonesia. Beberapa itu diambil dari pengamatan di Afrika Selatan ee karena memang astronom Afrika Selatan itu ee mempertimbangkan ee kebutuhan masyarakat di sana untuk keperluan
seperti kita ya. Jadi karena masyarakat Islam cukup ee establish di Afrika Selatan, maka astronom Afrika Selatan itu mulai mengumpulkan data pengamatan hilal secara sistematis. Nah, dan berdasarkan data tersebut ee dibangunlah ee suatu ini ya batasan. Nah, karena secara fikih itu kita tidak mengambil nilai rata-rata, tidak mengambil nilai ee apa namanya yang minimum, tapi justru ee batas-batas yang masih memungkinkan. Ada datanya, ada buktinya, dan ujung-ujungnya ee ditetapkanlah kriteria yang 3 derajat dan 6,4 derajat tersebut.
Baik, Masom. Kita tahu hari ini ada sejumlah saudara kita yang muslim yang sudah merayakan hari raya Idul Fitri. Artinya sudah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah pada hari ini dengan mengacu pada kalender hijriah global tunggal. Salah satunya adalah penampakan hilal di Afghanistan. Apakah ee sudut ketinggian hilal dan elansi dalam penerapan kalender hijriah global tunggal ini menggunakan sudut yang lebih besar dari mABIMS yang digunakan di Indonesia atau lebih kecil? ee saya kira kalau seandainya ada yang
ee memulai Syawal hari ini itu saya kira ee kurang didukung dengan perhitungan dan juga observasi yang mumpuni yang kontemporer gitu ya. Karena secara perhitungan modern sebenarnya konjungsi atau ijtima itu baru berlangsung jam 0.23 waktu Indonesia Barat. tadi pagi artinya ee harusnya baru melakukan pengamatan hilal ini sore ini bisa dilihat atau tidak itulah yang menentukan ee akankah besok itu 1 Syawal atau tidak. Nah, kalau seandainya sudah menentukan sebelumnya artinya 1 Syawalnya sudah tak jatuh hari ini, saya
kira kok itu tidak didukung dengan metodologi yang ee secara ilmiah apa namanya? dipercayai begitu. Baik. Ee Mas Ror dalam sidang isbat nanti sore ini apakah ee penerapan kalender hijriah global tunggal yang digunakan oleh beberapa kalangan ini akan menjadi salah satu pemaparan juga yang dipertimbangkan dalam sidang isbat di Kementerian Agama? harusnya begitu menjadi salah satu pertimbangan yang ee dibicarakan dalam sidang isbat termasuk kelemahan-kelemahan yang tadi disampaikan oleh ee Mas Rorom terkait
harusnya pemantauan hilal dilakukan pada sore hari ini ya Mas Rorom. Betul. Kalau dari ee pemantauan ya. Baik, Mas Ror silakan. Iya. Karena ee tadi sebenarnya kan harusnya ee apa namanya? Pergantian bulannya itu kan biasanya untuk kalender hijriah itu ee dihitung saat magrib. Dan ketika ee konjungsinya itu baru terjadi pagi hari, maka ee ya memang kita bisa bilang bahwa malam nanti itu sudah 1 Syawal, tapi malam harinya. sementara siang harinya itu masih terhitung ee di bulan Ramadan seharusnya begitu.
Apakah ini artinya kalender hijriah global tunggal ini ee tidak cocok diterapkan untuk penentuan ee hilal di Indonesia? Apakah seperti itu, Mas Rorong? Ya, kita ee perlu melihat kasus per kasus, ya. Dan ee dari kasus yang semacam ini kalau seandainya ada laporan dari Afghanistan yang ya ee saya kok agak agak menyangsikan ya. Nah, apakah ee kesaksian tersebut bisa digunakan atau diadopsi pada kalender hijriah tunggal atau seharusnya nunggu kesaksian di hari-hari ini di sore hari ini? Baik, untuk informasi terbaru
visibilitas hilal versi Brin untuk di Indonesia sendiri seperti apa hingga sore hari ini? Ee saya belum menerima laporan adanya ee yang mulai berhasil mengamati. Jadi kan beberapa pengamat mulai mengikuti ee menggunakan instrumennya itu mulai mengikuti posisi hilal seharusnya di mana ya dari pagi, dari siang sekalipun itu ee misalkan peneliti atau pengamat dari observatorium BOS HITB itu sudah beberapa kali berhasil mengikuti bulan meskipun dalam kondisi siang hari, dalam kondisi ee hilal yang luar biasa tipis.
Nah, ee akan tetapi saat ini kami belum menerima adanya keberhasilan seperti itu. Nah, hilal di siang hari itu memang bukan menjadi acuan untuk ee penentuan bergantinya bulan ya. Karena yang namanya hilal by definition dan apa secara hukum itu biasanya hilal yang terlihat apa saat magrib bukan saat siang hari. berarti dan memang kondisi cuaca di wilayah Indonesia ee agak variabel ya. Di beberapa titik dilaporkan ee mendung, di beberapa tempat meskipun cerah kondisi udaranya memang tidak sejenih yang
diharapkan. Apakah artinya posisi ketinggian hilal 3 derajat yang kabarnya sempat terlihat di Aceh ini tidak bisa dijadikan acuan untuk ee penampakan hilal di Indonesia, Mas Rorom? Kalau seandainya ee ada laporan dari wilayah barat Indonesia misalkan di ujung Aceh itu ya ee ketinggiannya sudah masuk 3 derajat lebih. Akan tetapi elongasinya itu masih di angka 6,2 derajat sehingga masih 0,2 derajat lagi untuk memenuhi kriteria MABIMS. Nah, ini ee merupakan area abu-abu dan itulah pentingnya sidang
isbat ya. Kalau seandainya mengacu pada kriteria MABIMS, kalau kita ee saklek begitu ya, strik pada aturan tersebut, maka kesaksian yang ada masih bisa disansi dan bisa jadi tidak akan menjadi ee dasar hukum untuk penentuan ee pergantian bulan ke Syawal. Nah, akan tetapi kalau seandainya ada ee pertimbangan lain, bisa jadi kesaksiannya tidak hanya tunggal, nah itu akan menjadi ee faktor-faktor tambahan, bahan-bahan pertimbangan yang akan mungkin akan sedikit menghangatkan sidang isbat nanti gitu. Karena memang
ee tipis begitu ya di area yang ya saya bilang sih masih area abu-abu begitu. Mas Rom tadi e menyebutkan area abu-abu. Kalau saklek mungkin tidak akan dilihat hilal pada sore hari ini. Tapi pernahkah terjadi dalam sidang isbat di Indonesia ini ee kondisi ketinggian hilal sudah memasuki 3 derajat, namun sudut elongasi hanya kurang misalnya mencapai 6,3 derajat gitu. Apakah itu menjadi pertimbangan khusus dalam sidang isbat dan akhirnya ditentukan hilal tampak? Pernahkah terjadi seperti itu Mas Lorong?
ee saya agak lupa ya kapan rasanya pernah terjadi agak mepet begitu ya. Jadi sebenarnya ee kriteria mabis ini masih bisa dibicarakan ya, masih bisa dipertimbangkan apabila ada ee kriteria-kriteria lain atau saksi-saksi lain ya Mas Rorom ya. dari sudut pandang ilmiah itu amat sangat dimungkinkan begitu ya dengan berkembangnya ee kemampuan kita, berubahnya kondisi klimatologis ee wilayah Indonesia. Bisa jadi ee kriteria semacam itu perlu di ee apa namanya bicarakan kembali. Akan tetapi kalau seandainya
ee dalam waktu singkat berubah lagi dan sebagainya itu kan ee kita perlu melihat, kita perlu mencari data dukung yang luar biasa ee apa ya melimpah begitu ya untuk mengubah kriteria semacam itu karena ee efeknya ke masyarakat kan cukup signifikan sehingga ee baiknya tidak mudah berubah. kriter yang sudah dibangun saat ini itu dasarnya sudah cukup kuat. Tapi kalau seandainya memang ada beberapa kesaksian yang sedikit menyimpang dari kriteria tersebut, ee selama itu dapat dibuktikan dengan baik, ada bukti ilmiahnya yang
sangat ee memadai, maka ya amat dimungkinkan kriteria itu dievaluasi kembali. Baik, Rorom Priat Kanto, peneliti bidang astronomi Brin. Terima kasih waktunya, Mas Rorom. Asalamualaikum. Sama-sama
Komentar