Di Balik Perpisahan Getir Seto Nurdiantoro dengan PSS – tirto.id

Duit bukanlah masalah tunggal yang mendasari perpisahan Seto Nurdiantoro dengan PSS.

tirto.id – Barisan pendukung klub sepakbola PS Sleman (PSS) dipaksa menyesap kabar baik dan buruk sekaligus, Rabu (15/1/2020) kemarin.

Berita baiknya, manajemen PSS resmi mengikat seorang pelatih sebagai pendamping Yevhen Bokashvili dan kolega mengarungi Liga 1 2020. Berita buruknya, juru taktik itu bukanlah Seto Nurdiantoro, melainkan Eduardo Perez Moran, pelatih kiper berpaspor Spanyol yang konon membawa modal lisensi Pro Asia, UEFA A, serta portofolio pernah jadi tangan kanan Luis Milla dan Xavi Hernandez.

“Beliau mantan asisten pelatih Luis Milla [eks pelatih Timnas Indonesia]. Dia akan menjadi head coach di PSS,” kata CEO PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), Fatih Chabanto saat memperkenalkan Moran di hadapan wartawan, Rabu (15/1/2020) kemarin.

Di mata manajemen Edu barangkali opsi tepat, tetapi tidak demikian bagi suporter. Penetapan ini tak seirama dengan harapan sebagian besar Sleman Fans yang menghendaki agar Seto dipertahankan.

Kekecewaan pun tak terelakkan. Salah satunya tampak ketika Kamis (16/1/2020) pagi tagar #BCSMelawan menggema di deret teratas trending topic jagat Twitter Indonesia. BCS, kependekan dari Brigata Curva Sud, adalah nama salah satu basis suporter PSS.

Suka atau tidak, dua musim terakhir Seto memang jadi kunci sukses Laskar Sembada. Pada masa awal 2018 lalu, mantan pemain Timnas Indonesia itu langsung mengantarkan PSS promosi ke Liga 1 dengan status juara Liga 2.

Saat musim promosi, PSS asuhan Seto juga jadi tim bertaji. Kendati berisikan materi pemain yang punya jam terbang minim di divisi teratas, nyatanya penampilan PSS di Liga 1 2019 jarang mengecewakan. Mereka jadi satu-satunya klub promosi yang tak terdegradasi, finis di delapan besar klasemen akhir, dan yang tidak kalah penting: mampu menyuguhkan sepakbola atraktif di atas lapangan.

Soal kesuksesan Seto ini, manajemen dan direksi PSS sebenarnya tidak malu memberi pengakuan. Dalam wawancara dengan Tirto, 2 Januari 2020, Soekeno, Komisaris Utama PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) menyebut “momen paling mahal” selama dia berada di direksi PSS adalah keputusan memilih Seto sebagai pelatih.

“Saya percaya dengan kemampuan coach Seto,” ujarnya.

Bukan Hanya Menyoal Gaji

Dari narasi yang bermunculan di media belakangan, negosiasi kedua pihak buntu lantaran PSS tak kuat menuruti kenaikan gaji 50 persen yang diharapkan Seto. Saat kami konfirmasi, Seto pun tidak menampik dirinya mengajukan kenaikan gaji. Namun, dia tidak setuju jika gaji dipandang sebagai akar masalah tunggal kebuntuan negosiasi antara dirinya dengan manajemen PSS.

“PSS sekarang [buktinya] menunjuk pelatih asing, mereka harus menyiapkan banyak saya kira. Fasilitas buat tinggal dan transportasi misal. Itu belum termasuk keperluan administrasi, seperti KITAS [izin kerja] dan lain-lain, itu perlu biaya,” ujar Seto lewat sambungan telepon, Kamis (16/1/2020) siang.

“Artinya jika masalahnya finansial, bukankah seharusnya tidak menunjuk pelatih asing?”

Ucapan Seto barangkali benar, sebab hingga saat-saat terakhir pihak manajemen pun tidak sepenuhnya berani mengklaim jika batu sandungan utama negosiasi dengan Seto adalah perihal gaji.

“Setelah beberapa kali pertemuan dengan coach Seto akhirnya pada satu titik kondisi yang ada di PSS Sleman dengan segala keterbatasannya itu [Seto] tidak bisa menerimanya,” ujar Fatih Chabanto.

Sebelum pengumuman kedatangan Moran, Seto dan PSS total mengadakan lima kali negosiasi. Pada pertemuan pertama hingga ketiga yang berlangsung sebelum Seto berangkat umroh, awal Januari 2020, pembahasan lebih banyak terkait menyamakan persepsi soal manajemen dan target.

Seto menyebut di tiga negosiasi awal inilah friksi dan ketidaksepakatan banyak terjadi. Sebab, di atas kertas PSS belum menuruti hal-hal mendasar yang dianggap penting dan dibutuhkan Seto.

“Kembali ke awal, saya selalu bilang agar manajemen ini dibentuk dulu sebelum duduk membahas siapa pelatihnya. Ini penting. Tetapi sewaktu negosiasi tidak begitu. Manajer klub saja belum ada,” sambung Seto.

Di sisi lain, Seto telah melaksanakan semua kewajibannya. Dia sudah merampungkan laporan akhir musim, melakukan evaluasi tim, sampai merumuskan rekomendasi pemain yang harus dipertahankan manajemen sebelum kompetisi dimulai.

Selain perkara penetapan manajemen, permintaan lain Seto adalah agar fasilitas latihan dan kesejahteraan pemain ditingkatkan. Dia juga ingin aspirasinya soal rekomendasi pemain lebih didengar pengambil kebijakan. Menurutnya hal-hal tersebut adalah aspek krusial demi memenuhi target PSS finis lebih baik musim depan.

“Bukan berarti menuntut banyak. Sebenarnya yang saya minta itu hal-hal dasar.”

Negosiasi Menggantung Sampai Akhir

Tidak cuma terkait hal-hal dasar yang gagal dipenuhi, Seto mengaku turut kecewa dengan sikap manajemen PSS lantaran memutus negosiasi tanpa permisi. Saat hari pengumuman Moran sebagai pelatih Rabu kemarin, Seto mengaku PSS sama sekali tidak memberi tahunya.

“Jadi ceritanya di pertemuan keempat, Sabtu [11 Januari] itu saya memang mengajukan soal nominal gaji. Senin 13 Januari kemarin digelarlah pertemuan kelima, yang di situ intinya manajemen menaikkan tawaran, tapi memang belum sesuai permintaan saya,” tutur Seto.

Namun tawaran yang di bawah permintaan itu sebenarnya belum ditolak oleh Seto. Pada titik itu, Seto belum bisa mengeluarkan jawaban.

“Karena saya harus berdiskusi dulu dengan keluarga. Saya bukannya menolak tawaran itu, tapi tentu tidak bisa bilang iya jika belum minta pertimbangan keluarga,” sambung Seto.

Sayangnya, belum juga jawaban dia berikan ke manajemen, pengumuman mendadak soal kedatangan Moran didengungkan manajemen di depan media.

“Saya sendiri jujur kaget, soalnya itu enggak ada kabar. Statusnya saya belum memberi jawaban mau atau tidak dengan tawaran PSS, tetapi tiba-tiba sudah ada pelatih baru diumumkan.”

Seto, di sisi lain hanya bisa pasrah. Sejak awal dia berujar “selalu memprioritaskan tawaran dari PSS.” Namun, jika akhirnya manajemen PSS mengambil jalan berbelok, tidak ada yang bisa dilakukan Seto selain menghormati keputusan itu.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: