Lokasi yang Pernah Dijadikan Tempat Ritual Keraton Agung Sejagat: Dieng hingga Gunung Tidar – Kompas.com – KOMPAS.com

KOMPAS.com-Tak hanya warga Purworejo yang sempat dihebohkan dengan adanya Keraton Agung Sejagat (KAS).

Warga Sleman, Banjarnegara dan Magelang pun kaget karena ‘raja dan ratu’ Toto Santoso dan Fanni Aminadia rupanya pernah menggelar ritual di daerah tersebut.

Berikut lokasi-lokasi yang pernah digunakan untuk aktivitas ritual kelompok Keraton Agung Sejagat:


Baca juga: Raja Keraton Agung Sejagat Sebut Akan Ada Malapetaka Jika Tak Jadi Pengikutnya

1. Gelar kirab pengantin di Sleman

Rumah kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso (sebelumnya Totok) di RT 05/RW 04 Dusun Berjo Kulon, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, digeledah polisi, Rabu (15/1/2020).KOMPAS.com/WIJAYA KUSUMA Rumah kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso (sebelumnya Totok) di RT 05/RW 04 Dusun Berjo Kulon, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, digeledah polisi, Rabu (15/1/2020).

Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso diketahui pernah mengontrak di RT 05/RW 04 Dusun Berjo Kulon, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman.

Di tempat tersebut, Toto dan Fanni pernah dikirab sebagai pasangan suami-istri dengan iring-iringan pasukan berseragam.

Kasi Pemerintahan Desa Sidoluhur, Arya Pradana, mengatakan prosesi kirab tersebut sama seperti video yang viral di Purworejo.

“Kami pendekatan mencari informasi, mereka jawabnya untuk kirab manten (pengantin),” ucapnya saat ditemui Kompas.com, Rabu (15/01/2020).

Setelah video di Purworejo viral, Arya baru menyadari peristiwa tersebut sama dengan yang ada di daerahnya, di Sleman.

Salah seorang warga pun membenarkan perihal adanya kirab pengantin tersebut.

“Kemarin ada nikahan, pakai acara kirab juga. Yang nikah bukan warga sini, tapi orang yang tinggal disitu (rumah kontrakan Toto Santoso),” kata Niken Puji Lestari.

Baca juga: Fakta Keraton Agung Sejagat dan Kehidupan Sang Raja di Pinggir Rel KRL Stasiun Kampung Bandan

2. Pengukuhan raja di Dieng

Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng dilihat dari Puncak Gunung Pakuwaja Wonosobo.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng dilihat dari Puncak Gunung Pakuwaja Wonosobo.

Tahun lalu, Kerajaan Keraton Agung Sejagat juga melakukan ritual di kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara.

Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Pengelolaan Objek Wisata Dieng, Aryadi Darwanto, mengaku melihat langsung prosesi pengukuhan raja dan doa bersama memperingati 1.000 tahun Raja Sanjaya.

“Iya benar pernah ke Dieng, suratnya (izinnya) ada, tapi di kantor, surat dari mereka. (Waktu) Persisnya enggak tahu, lupa, pokoknya pas musim embun es, karena pas doa bersama dan pengukuhan itu sekitar pukul 22.00 WIB sudah turun es. Saya ingat betul, karena waktu itu saya kedinginan, akhirnya pulang,” kata Aryadi saat dihubungi, Rabu (15/1/2020).

Prosesi diikuti lebih dari 100 orang lengkap dengan kostum kerajaan dan iringan drumband.

Mereka berjalan kaki sejauh 1 km menuju kompleks Candi Arjuna selama sekitar dua jam karena berjalan lambat.

“Respons warga untuk melihat biasa, karena musiknya keras terus nadanya unik, seperti prajurit Keraton Yogya musiknya, banyak nonton, tapi karena cuaca dingin hanya beberapa orang yang melihat di candi, akhirnya cuka beberapa yang bertahan,” ujar Aryadi.

Setelah penangkapan raja dan ratu Keraton Agung Sejagat, dia baru memastikan bahwa ritual itu dilakukan oleh orang yang sama.

Baca juga: Dalami Kasus Keraton Agung Sejagat, Polisi Gandeng 3 Guru Besar Undip

Gunung Tidar di tengah Kota MagelangKOMPAS.COM/IKA FITRIANA Gunung Tidar di tengah Kota Magelang

Bulan Mei 2019, raja dan ratu Keraton Agung Sejagat juga pernah melakukan ruwatan di puncak Gunung Tidar, Magelang.

Petugas jaga Gunung Tidar, Heri Setyawan (50), mengaku ingat keduanya memakai pakaian kebesaran lengkap dengan mahkota dan aksesoris lain.

“Ada juga yang memakai jubah warna putih. Sedangkan yang perempuan ada yang memakai prajurit, namun ada juga yang memakai kebaya,” cerita Heri kepada wartawan, Rabu (15/1/2020).

Ruwatan dimulai dengan kirab dari bawah hingga naik puncak Gunung Tidar dengan diiringi drumband, mulai malam hingga dini hari.

Ritual dilakukan dengan memotong puluhan ekor ayam, kemudian darahnya dikubur di sekeliling Tugu Sa yang berada di puncak Gunung Tidar.

(Penulis: Wijaya Kusuma, Ika Fitriana, Fadlan Mukhtar | Editor: Khairina)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: