Manfaatkan Aplikasi Si Butik untuk Membantu Mengusir Jentik – Jawa Pos

Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo

Si Butik ini bukanlah nama seorang wanita. Apalagi sebutan bagi seorang relawan kesehatan. Si Butik adalah sebuah aplikasi. Kepanjangannya Sidoarjo Berburu Jentik.

Si Butik sebagai upaya dari Dinkes Sidoarjo untuk memonitoring kebersihan penampungan air yang ada di rumah warga. Sebab, air bersih yang tergenang, sangat disukai nyamuk sebagai tempat bertelur. Misalnya, kolam ikan, kolam renang, air bak mandi, hingga air tempat minum hewan peliharaan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sidoarjo dr. M. Atho’illah menyampaikan, fogging bukan cara efektif mencegah DBD. Hanya bisa dilakukan pada kejadian gawat darurat saja. Saat fogging, nyamuk dewasa saja yang mati. Jentik tidak. Dengan seringnya dilakukan fogging, maka jentik nyamuk akan resisten atau kebal.

Karena DBD tidak bisa dilihat dari penurunan trombosit saja. “Ada pendarahan enggak, ada dekonsentrasi dalam darah enggak. Sebab trombosit turun bisa terjadi pada orang kecapekan, dehidrasi dan, diare,” katanya.

Sama saja jika dilakukan fogging. Warga masih malas menguras air, banyak baju yang masih menggantung sembarangan. Nyamuk masih leluasa berkembang biak.

Dengan Si Butik ini, diharapkan mampu mencegah penyebaran jentik sedini mungkin. Selama ini, pemeriksaan dan pencatatan temuan jentik nyamuk masih dilakukan oleh kader pemantik di setiap wilayah secara manual per bulannya.

Tetapi, melalui aplikasi Si Butik, masyarakat diajak peduli memeriksa jentik nyamuk secara mandiri. Setiap rumah idealnya harus memiliki juru pemantik. Seminggu sekali warga harus mengisi form di apliksai. Apakah ada jentik di kamar mandi atau tempat penyimpanan air lainnya.

Data tersebut akan terekap menjadi grafik. Di aplikasi Si Butik akan muncul berapa rumah per RT per RW dan tempat-tempat umum (TTU) lainnya. Seperti pasar, musala dan sekolah. “Supaya lebih waspada. Ternyata jentik di desa ini masih sekian. Karena angka bebas jentik minimal 95 persen,” imbuhnya.

Jika angka bebas jentik dibawah itu, masyarakat harus waspada. Supaya tetap melakukan 4M plus (menguras, menutup, mengubur dan memantau plus menghindari dari gigitan nyamuk).

Dimana saat ini kewaspadaan terhadap penyakit menular lebih ditinggalkan. Sekarang jarak jangkauan nyamuk Aedes Aegypti bisa mencapai 10 kilometer. Dalam waktu dekat, aplikasi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. Warga bisa mengunduhnya melalui appstore. “Meskipun di aplikasi angkanya bagus, tapi kenyataan di lapangan masih ada penderita. Berarti data yang diinput, tidak tepat,” pungkasnya. (*/vga)

(sb/rpp/Nug/JPR)

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: