Itaana Hadiwijoyo, psikolog anak dan remaja menyebut langkah Komdi melarang anak-anak di bawah umur memiliki media sosial sudah dinanti sejak lama. Pembatasan ini penting bukan untuk menghilangkan sepenuhnya akses anak pada internet, tapi agar anak tidak mendapat dampak buruk dari dunia digital. Lengkapnya kita ikuti cuplikan dialog bersama Anis Rina Kirana dan Rolando Samboaga dalam program Berita 1 Siang kemarin. Ini adalah langkah awal sebetulnya bukan langkah awal ya, langkah awal PP Tunas tahun lalu ya. Ini
langkah yang lebih ee represif kalau menurut saya yang kita sebenarnya sudah tunggu sejak lama gitu. Ee saya sebagai praktisi juga ee orang tua yang datang ke tempat praktik saya gitu ya. tadi seperti kata Ibu Menteri kan ee orang tua tidak lagi bertarung sendirian. Nah, ini memang sudah kita tunggu-tunggu nih adanya ee tindakan dari pemerintah yang kita harap punya lewenang lebih besar gitu ya untuk melakukan ee tindakan-tindakan yang diperlukan untuk melindungi anak di dunia digital. Jadi memang kita
tunggu-tunggu nih ee aturan ini gitu. Baik. Jadi ini sebelum ee adalah langkah yang ee tepat begitu ya untuk bisa membatasi akses ee media sosial terhadap anak. Tapi di lain sisi juga sebetulnya meskipun ini merupakan langkah ee preventif begitu ya, tapi ada langkah yang juga perlu diambil nampaknya untuk bisa membatasi media sosial itu sendiri. Karena banyak kasus di mana anak ini tidak perlu membuat akun apalagi YouTube ini ya. YouTube itu tidak perlu membuat akun hanya bisa meminjam ee akun dari
orang tuanya tapi juga bisa tanpa akun bahkan bisa menonton dan juga menikmati konten-konten yang ada di ee media sosial begitu. Nah, menurut Anda seperti apa ini ee Mbak Vera? Oke. Ee jadi gini. Jadi ini ibaratnya seperti kita membiarkan atau membolehkan anak-anak ee main di halaman gitu ya. Ee dan di depan rumah kita itu jalan raya gitu ya. Nah, halaman ini kalau kita tidak berikan pagar tentu kita salah. Hm. Gitu ya. Jadi ee langkah ini berupa peraturan menteri atau PP yang tahun lalu diluncurkan itu adalah usaha kita
untuk membuat pagar supaya apa? Supaya anak tidak masuk ke jalan raya sehingga ee bahaya buat dirinya. H gitu. Nah, tentu pagar ini tidak sempurna. Tadi ee Mbak Misrina bilang gitu ya, nanti ada yang mengakali umurlah gitu ya. Semenjak dunia digital itu atau medsos ini ee booming kan banyak sekali. Saya bahkan tahu ada orang tua yang memang dengan sengaja mengubah usia anaknya supaya demi anaknya bisa punya akun medsos, bisa ee main sendiri gitu ya. Nah, ini kan tentu banyak celah-celah di pagar itu. Nah,
tapi ini kita patut apresiasi sebagai langkah awal dalam usaha untuk membuat pagar yang ee tentu bisa melindungi gitu ya. Karena kalau tanpa ada pagar sekali, tanpa ada pagar sama sekali gitu ya, kita salah nih gitu ya. Kita sebagai orang tua, sebagai ee siapapun yang terlibat dalam pengasuhan anak termasuk pemerintah juga karena kalau tidak ada pagarnya kita salah karena kita tahu ini akan berbahaya tapi kita tidak melakukan sesuatu gitu. Baik. Eh, Mbak Vera ini jadi ini memang perlu ya mengetahui
bahwa ee ada batasan-batasan khusus yang harus dilakukan begitu, terutama dari orang tua begitu ee demi tidak mencelakakan anak atau menjerumuskan atau melihat anak ini masuk ke hal-hal yang tidak diinginkan. Iya. Dengan tidak maksud untuk apa menghilangkan sama sekali ya. Karena kita tahu juga bahwa dunia digital juga membawa dampak positif gitu ya. ee untuk belajar, untuk memberikan kesempatan anak-anak lebih mengekspresikan diri. Cuma namanya anak mereka kan kontrol dirinya masih belum berkembang dengan
baik gitu ya. Jadi memang perlu batasan-batasan ya memang ee cara yang paling apa namanya adalah di usia ya kita batasi usianya dengan tegas gitu. Nah, iya itu dia. Nah, ini kan ee data BPS pada tahun 2024 juga menunjukkan bahwa anak usia dini ee sudah dapat mengakses internet begitu ya. Nah, apa bahayanya jika anak usia di ini sudah tahu internet kalau Anda menilainya, Mbak Vera? Nah, ibarat tadi ya e main di halaman kita tahu itu main di halaman itu menyenangkan ya di dunia digital itu banyak mereka bisa bergerak, banyak
manfaat dan sebagainya. Tapi kalau tidak dibatasi gitu ya, ee anak tuh ee cenderung melewati batasnya gitu. Dia akan ke jalan raya nanti tertabrak dan sebagainya. Nah, pengalaman dari pengalaman ee praktik saya aja gitu ya ee ada ee cyber bully gitu ya, ada terus ee resiko adiksi, ada anak yang menjadi korban manipulasi ee kejahatan seksual gitu ya. Mereka diminta untuk mengirimkan foto lalu diperas itu ada beberapa ee anak yang menjadi korban datang ke saya seperti itu gitu ya. Terus juga ada manipulasi dari
aplikasi-aplikasi yang kedoknya seperti games gitu ya. Menyenangkan buat anak tapi ternyata judi gitu ya. Kita juga kemarin sempat ee apa namanya ada data-data yang mengejutkan sekali bahwa anak umur di bawah umur 10 tahun bahkan sudah ee main judi online gitu. He he. Iya. Itu tentu menjadi hal yang sangat miris begitu ya. He. Lantas kalau kita melihat dampak dari media sosial dalam konteks ini adalah dampak buruk ya. I. Selain juga tadi yang seperti Anda sampaikan, Mbak Vera mulai dari adiksi kemudian juga gangguan perilaku, bahkan
ini kemungkinan bisa terjerus dengan judi online begitu. Lantas dari pengalaman Mbak Vera sendiri, apa ada cerita dari orang tua yang anaknya memiliki kecanduan sosmate atau game online berlebihan hingga kemudian ini juga mengganggu mental dan perilaku anak? Ya, ee saya enggak mau bilang banyak tapi ada gitu ya. Jadi ee macam-macam gitu. Jadi kalau sudah adiksi ee ada yang terus berdampak tidak mau sekolah gitu ya karena dia maunya main aja gitu. Terus dari main game itu kebetulan sudah ada yang dihasilkan berupa uang itu ada.
Ada juga yang adisi sampai dia mencuri mencuri gitu ya karena untuk memenuhi ee kebutuhan dia untuk top up game dan sebagainya gitu ya untuk beli skin dan apa dan sebagainya gitu ya. Ada juga yang apa namanya jadinya menggunakan kartu kredit orang tuanya tanpa sepengetahuan sehingga tagihannya bisa berpuluh-puluh juta. Nah, ini ini salah satu contoh-contoh kecil aja gitu ya yang saya temui di tempat praktik. Saya ee menduga sih banyak kasus lain, banyak yang lain yang memang tidak mungkin tidak sampai dibawa ke psikolog dan
sebagainya dan itu banyak terjadi gitu ya. dan ee orang tua ee terus terang juga kewalahan satu dan juga mungkin ikut terlena juga dengan ee dunia digital ini sehingga jadinya kurang aware, kurang awas dalam mengawasi ee anak ini untuk ee memilih mana sih yang aplikasi, mana sih platform yang memang sesuai gitu. say
Komentar