Menjauhlah dari Prilaku Yang Berpotensi HIV – Serambi Indonesia

Petugas RSU Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara selama Januari-November 2019 menemukan tujuh ibu hamil yang positif human immunodeficiency virus (HIV) berdasarkan hasil pemeriksaan daerah. Sedangkan jumlah keseluruhan kasus HIV/AIDS yang ditemukan dalam tahun ini mencapai 17 pengidap.

Direktur RSUCM, Nurhaida MPH mengatakan, sejak 2016 rumah sakit yang dipimpinnya sudah menjadi rumah sakit rujukan obat antiretroviral (ARV). AJadi, pasien yang kita layani bukan hanya dari Aceh Utara, tapi dari kabupaten/kota lainnya. Pasien yang rutin minum obat ARV sampai November 2019 ada 82 orang dari 173 kasus. Sedangkan yang meninggal 4 orang,@ ujarnya.

Dari tujuh ibu hamil yang positif HIV hasil deteksi RSUCM itu tak seorangpun yang boleh diberitahukan identitasnya kepada pers. Namun, di Jakarta, seorang wanita hamil secara terbuka bersedia berbicara kepada pers. Ia mengaku bernama Kiki berusia 33 tahun dan sudah 12 tahun hidup dengan (HIV).

Setelah menikah ia pun hamil. Pada bulan pertama kehamilannya, HIV belum terdeteksi di tubuh Kiki. Ketika itu usianya masih 23 tahun. Saat usia kandungannya memasuki bulan keempat, Kiki kembali menjalani pemeriksaan HIV. Hasilnya, dokter menyatakan Kiki positif terinfeksi HIV. Ia kaget bukan kepalang. Kiki mengaku virus tersebut dia dapat dari suaminya. Sebelum menikah dengan Kiki, pria yang kemudian menjadi mantan suaminya itu menggunakan narkotika jenis suntik. Syukurnya, menurut dokter, janin yang dikandung Kiki tidak terinfeksi HIV. Anak itu kini dapat tumbuh normal dan mendapatkan hak yang sepadan dengan anak lain.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menyatakan ibu rumah tangga termasuk profesi yang rentan terinfeksi virus tersebut. Karenanya, menjadi ibu hamil dengan HIV harus hati-hati menjaga bayinya. Sebab, virus itu gampang menular kepada bayinya selama kehamilan, selama persalinan, atau menyusui. AWanita yang terinfeksi HIV tidak boleh menyusui bayi mereka karena HIV dapat ditularkan melalui air susu ibu.@

Selain itu, HIV juga dapat ditularkan pada bayi melalui makanan yang sudah kena ludah penderita HIV. Namun, HIV tidak dapat ditularkan melalui kontak biasa, seperti pelukan atau ciuman dengan mulut terkatup, atau melalui barang‑barang seperti dudukan toilet, pegangan pintu, atau alat makan yang digunakan oleh orang yang terinfeksi HIV.

Para ahli mengatakan, obat anti‑HIV bisa digunakan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak Mengonsumsi obat anti‑HIV selama kehamilan dapat mengurangi jumlah HIV di dalam tubuh ibu yang terinfeksi HIV. Berkurangnya jumlah HIV dalam tubuh mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak.

Sampai saat ini, belum ada obat yang secara efektif bisa membunuh virus HIV. Padahal, HIV/AIDS sudah menjadi pandemi menakutkan dalam sejarah manusia. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menjadikannnya rentan terhadap segala virus dan bakteri. Karena belum ada obat, maka yang paling digencar dikampanyekan oleh banyak kalangan adalah pencegahan HIV/AIDS.

AUntuk mencegah penularan HIV/AIDS lebih luas lagi, kita berupaya membangun pengetahuan dan pemahaman yang memadai bagi anak muda dan wanita usia produktif akan kesehatan seksual dan reproduksi, di mana HIV termasuk di dalamnya. Masa muda itu penuh gejolak dan rasa ingin tahunya seputar masalah seksual sangat besar. Bila tidak diberi pemahaman yang benar, kondisi ini bisa sangat membahayakan,@ ujar seorang relawan anti-HIV.

Pengetahuan dan pemahaman yang diberikan sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS adalah dengan terus mengingatkan untuk tidak melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, tetap setia pada satu pasangan seksual (pasangan pernikahan), tidak mengonsumsi narkoba.

Kita berharap pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS terus dilakukan secara serius dan gigih. Dengan demikian target Three Zero pada 2030, yaitu tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma serta diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (odha), akan dapat terwujudkan.

Karenanya, untuk upaya pencegahan, masyarakat umum diimbau supaya tidak berprilaku berisiko, seperti seks berisiko atau narkoba suntik. Bila sudah pernah melakukan prilaku berisiko, perlu dilakukan tes HIV segera. Bila tes HIV negatif, tetap berprilaku aman dari hal‑hal yang berisiko menularkan HIV. Kemudian bila tes HIV positif, maka selalu patuhi petunjuk dokter dan minum obat antiretrovital agar hidup tetap produktif walaupun positif HIV. Nah?!

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: