Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi yang baru. Sosok yang terpilih bukan orang asing, melainkan putra dari pemimpin sebelumnya, Ayatullah Ali Khamanaiin. Dia adalah ayatullah Sayid Mujtabah Hosini Khamani. Lalu siapa sebenarnya Mojtabak Khamani? Dan apa artinya pergantian kekuasaan ini bagi Iran dan dunia? Pergantian pemimpin Iran terjadi setelah tewasnya pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatullah Ali Hamanei. Hamanei meninggal dunia dalam serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel
terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Kepergian Hamane memicu perubahan besar dalam struktur kepemimpinan Iran. Untuk menentukan pengganti pemimpin tertinggi, Majelis Pakar Iran segera menggelar pertemuan. Majelis Pakar merupakan lembaga yang beranggotakan 88 pemuka agama senior yang memiliki kewenangan memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi Iran. Setelah melalui proses pembahasan, Majelis Pakar akhirnya memilih Moabakamane sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Keputusan ini menandai berpindahnya kekuasaan di Iran ke
generasi berikutnya. Diketahui Mojtabah Hamane merupakan putra kedua dari Ayatullah Ali Hamanei. Dia berusia sekitar 56 tahun dan dikenal sebagai pemuka agama yang memiliki pengaruh besar di Iran. Meskipun selama ini tidak terlalu sering tampil di depan publik, Moaba dikenal memiliki peran penting di balik layar kekuasaan. Banyak pihak menyebut Mojtaba sebagai sosok yang selama ini menjadi penjaga kekuasaan sang ayah. Dia juga dikenal memiliki hubungan erat dengan Garda Revolusi Iran atau IRGC,
salah satu kekuatan militer paling berpengaruh di negara tersebut. Hubungan kuat dengan kalangan keamanan dan militer inilah yang membuat MTAaba memiliki pengaruh besar dalam politik Iran. Lantas apa alasan MOTA dipilih? Sejumlah pengamat menilai pemilihan Mustaba Hamenei menunjukkan bahwa kelompok garis keras Iran masih memegang kendali. Mustaba dianggap sebagai sosok yang mampu menjaga arah politik Iran seperti yang selama ini dijalankan oleh sang ayah. Salah satu anggota Majelis Pakar Iran, Mohsin Haidari Alekasir menyebut bahwa
pemimpin tertinggi Iran haruslah sosok yang dibenci oleh musuh. Pernyataan ini merujuk pada kebijakan Iran yang selama ini bersikap tegas terhadap negara-negara Barat. Dengan latar belakang dan hubungan kuatnya dengan kekuatan militer, Majtaba dinilai memenuhi kriteria tersebut. Menunjukkan MTAaba Hamane sebagai pemimpin tertinggi Iran langsung mendapat perhatian dunia. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang menyoroti keputusan tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan menyebut MTAaba sebagai
pilihan yang tidak dapat diterima bagi Washington. Pernyataan ini menunjukkan bahwa hubungan Iran dan Barat masih berada dalam kondisi tegang. Sementara itu, negara-negara di Timur Tengah juga terus memantau perkembangan politik di Iran. Kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi Iran memiliki kekuasaan yang sangat besar. Pemimpi tertinggi memiliki keputusan akhir dalam berbagai urusan negara mulai dari kebijakan luar negeri, program nuklir hingga pengendalian militer. Dengan kekuasaan sebesar itu,
sosok yang menduduki posisi ini sangat menentukan arah dan keamanan Iran. Kini seluruh kekuasaan tersebut berada di tangan Mojtabah Khamane. Pergantian kepemimpinan di Iran terjadi di tengah konflik besar yang masih berlangsung di Timur Tengah. Dengan terpilihnya MTAenei, Iran memasuki babak baru dalam sejarah politiknya. Banyak pihak menunggu bagaimana arah kebijakan Iran ke depan, terutama dalam hubungannya dengan Amerika Serikat dan juga Israel. Satu hal yang pasti, pergantian kekuasaan ini akan memiliki dampak besar
bagi kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Demikianlah headline hari ini. Update berita-berita terbaru hanya di inews.id. Saya Komaruddin Bagja. Sampai jumpa.
Komentar