Di tengah ketidakpastian geopolitik dan gejolak ekonomi global yang masih tinggi, Bank Indonesia (BI) menyatakan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2026. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat berkat orientasi pasar domestik yang dominan.
Struktur Ekonomi Berbasis Domestik sebagai Kekuatan Utama
Struktur ekonomi Indonesia saat ini didorong secara signifikan oleh konsumsi domestik. Dengan populasi mencapai lebih dari 285 juta penduduk serta kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki daya tahan yang besar. Sektor-sektor seperti pariwisata, industri kreatif, dan kuliner terus digali potensinya, sementara porsi ekspor neto hanya memberikan kontribusi di bawah 10% dari total ekonomi nasional. Pemerintah juga terus menjalankan berbagai program inklusif yang menyasar lapisan masyarakat bawah hingga menengah atas guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Langkah Strategis Menjaga Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah
BI memiliki peran vital dalam menjaga tiga pilar stabilitas: inflasi, nilai tukar rupiah, dan stabilitas sistem keuangan. Untuk mengendalikan inflasi, BI menaruh perhatian khusus pada volatile food inflation atau inflasi pangan. Melalui 46 kantor perwakilan di seluruh Indonesia, BI bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi lokal, seperti penerapan teknologi smart farming dan pemberdayaan UMKM.
Upaya Menekan Dampak Imported Inflation
Terkait risiko imported inflation (inflasi yang terbawa dari luar negeri), BI fokus pada stabilisasi nilai tukar rupiah agar depresiasi tidak terlalu dalam. Langkah ini dilakukan bukan untuk membatasi akses valuta asing, melainkan memperbaiki tata kelola permintaan dolar agar sesuai dengan kebutuhan yang mendasar (underlying), seperti transaksi riil atau pendidikan.
Diversifikasi Melalui Local Currency Transaction (LCT)
Dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, Bank Indonesia secara agresif memperluas skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan ini memungkinkan pelaku usaha untuk bertransaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra dagang. Hal ini dianggap penting mengingat mitra dagang Indonesia sangat bervariasi dan tidak terbatas pada negara yang menggunakan dolar.
BI mengajak seluruh elemen bangsa untuk bangga dan menggunakan rupiah dalam setiap transaksi domestik. Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran masyarakat dalam menjaga stabilitas nilai tukar, ekonomi Indonesia diharapkan mampu tumbuh secara berkelanjutan meski di tengah tantangan global.



